Sebagai seorang ibu dari dua gadis yang beranjak dewasa, saya merasa sangat bersyukur dan berbahagia karena keduanya gadis penurut dan rajin beribadah. Tahun 2010 ketika anak pertama lulus SMA dan melanjutkan pendidikan di luar kota, ada rasa yang sangat berat di dalam hati untuk melepaskannya hidup sendiri di kos di tengah tengah orang- orang yang baru dikenalnya, jauh dari orangtua dan adiknya. Bagaimana dia mengurus dirinya sendiri nanti. Ketika aku mengutarakan unek-unekku itu pada suamiku, dia hanya berkata untuk tidak terlalu khawatir dengan keadaan anak yang jauh dari orangtua, yang penting adalah mendoakan dan berserah sama Tuhan.
Hari demi hari berlalu hingga akhirnya akupun terbiasa dengan hanya hidup bertiga di rumahku. Setahun kemudian anakku yang kedua lulus SMA dia diterima di sebuah perguruan tinggi juga di luar kota. Kali ini terasa lebih berat lagi melepaskannya karena itu berarti aku hanya akan tinggal berdua saja dengan suami. Betapa sunyi dan hampa rumahku nanti. Kalau biasanya kami berempat adalah tim yang kompak untuk menyenandungkan lagu-lagu pujian di teras rumah kami, sekarang cuma tinggal berdua.
Ketika meninggalkan anak keduaku di kosnya, mati-matian aku berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihanku didepannya. Duh anak manja bisakah kau hidup mandiri tanpa orangtua? Ketika melihat dia sudah bisa tersenyum dan melambaikan tangan, aku merasa agak lega.
Hm..... beginikah rasanya menjadi orangtua yang hidup terpisah jarak yang jauh dari anak-anaknya. Beginikah rasanya menjadi seorang ibu yang kesepian. Walaupun tertutup oleh wajahnya yang tenang, aku merasa yakin kalau suamiku juga merasakan hal yang sama.
Aku jadi teringat ibu kandungku yang juga tinggal jauh dari tempat tinggalku. Mungkin beginilah perasaan beliau ketika melepasku untuk bekerja dan menetap di daerah yang jauh dari beliau. Maafkan aku ibu, karena kesibukanku aku jarang menengokmu. Betapa sepi hidupmu ibu apalagi setelah ditinggal pergi ayahku untuk selama lamanya. Tak terasa menetes deras air mataku. Ibu .... aku sangat rindu padamu.
Setiap dua atau tiga bulan sekali kedua anakku pasti pulang. Bahagia nian hati ini ketika menunggu kedatangan mereka. Rasanya melebihi rasa bahagia ketika jatuh cinta pada lawan jenis di masa muda dahulu. Hal inipun juga mengingatkanku pada sosok ibuku yang penuh kasih. Dengan senyuman dan binar bahagia di mata beliau yang tak dapat disembunyikan setiap kali menyambutku datang kepadanya. Ibu ... aku gak akan pernah melupakanmu.