Tahun 1999 setelah lolos seleksi, saya dan 4 orang guru bahasa inggris dari Banjarnegara diterima di IKIP Semarang (sekarang UNNES) untuk melanjutkan S1 dalam sebuah program beasiswa yang bernama Karyasiswa. Kuliah diselenggarakan di kampus setiap hari jumat, sabtu dan minggu.
Alat transportasi umum khususnya bis yang langsung dari Purwokerto ke Semarang masih sangat jarang. Kondisi bisnya juga ga begitu baik, yang memprihatinkan atapnya sudah karatan dan bocor di sana sini. walaupun kondisinya seperti itu tetap saja penuh sesak dengan penumpang.
Setiap kali pulang ke Banjarnegara sudah dipastikan kalau tidak lagi beruntung, tidak mendapatkan tempat duduk di bis. Badan terdorong kesana kemari karena berdiri berjejalan di dalam kendaraan. Panas, berbagai macam baupun ikut memeriahkan suasana, bau keringat,bau makanan, bau muntahan dan yang paling menyebalkan dalam kondisi seperti itu masih ada juga yang merokok. Bukan cuma satu orang tapi lebih dari 5-6 orang. Para pengamenpun ikut ikutan naik ke dalam bus, setelah mendapatkan tempat yang agak lapang mulailah mereka unjuk kebolehan. Sering aku berdoa dalam hati, semoga mereka tidak mendekat ke tempat posisiku berdiri, soalnya suaranya terasa keras sekali di telingaku, belum lagi maaf ya bau mulutnya kadang kadang sangat mengganggu.
Suatu kali karena ingin agak nyaman dan bisa mendapatkan tempat duduk di bis yang menuju ke Banjarnegara, aku sengaja ke terminal Terboyo seorang diri. Dari kampus sekaran, aku naik bis kota menuju kesana. Di dalam bis kota, aku duduk di sebelah seorang gadis yang kelihatannya seorang pelajar atau mahasiswi. Dalam perjalanan aku merasa agak ga nyaman duduk disampingnya karena dia bertubuh agak besar, jadi hanya tersisa sedikit bagian kursi untuk kududuki. Sampai akhirnya aku melihat di sebelah kiriku ada penumpang yang turun. Segera aku pindah tempat duduk kekursi yang ditinggalkan penumpang itu. Tapi aduh ternyata tempat duduk yang inipun juga ga enak untuk duduk, posisinya agak miring dan di dekatnya ada maaf sedikit darah, mungkin penumpang yang tadi turun sedang mendapatkan tamu bulanan.Terpaksa aku pindah lagi ke tempat dudukku yang semula. Eh ..gadis di sebelahku langsung memeriksa tas ransel yang dipangkunya, dia juga meraba dan memeriksa saku celana dan jaketnya sambil melirik kearahku. Sepertinya dia ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau barang barang bawaannya masih aman di tempatnya. Wah sepertinya dia mencurigai dan mengira aku seorang pengutil atau pencopet. Aduh mbak walaupun aku ini gak beautiful, tapi lihatlah mataku ini, aku bukan seorang pencuri, aku orang yang baik dan sebagai informasi tambahan aku bukanlah seorang koruptor hehehe...
Akhirnya sampai juga di terminal Terboyo. Turun dari bis kota, aku berjalan menuju ke tempat bis bis tujuan luar kota yang sedang mangkal. Tengak tengok depan belakang, kiri kanan, hm.. sudah amankah? Aku ingin buang gas yang sejak tadi kutahan. Aku tak ingin hal itu nanti mengganggu orang lain dan tentu saja aku tak ingin hal itu diketahui orang lain. Merasa sudah aman .... wusss rasanya lega sekali. Tapi .. ya Tuhaan tiba tiba saja ada suara rame anak anak muda di belakangku. Salah satunya nyeletuk dengan keras, " Wah mbak'e ngentuut!" Kemudian mereka beramai ramai mendahului aku sambil melengos ke arahku. Dengan muka yang kubuat setenang mungkin, aku berpura pura tidak mendengar dan melihat kearah mereka. Dengan wajah yang kubuat seinosen mungkin aku membelokkan jalanku masuk ke warung, beli makanan kecil untuk dua gadis kecilku di rumah.
Masuk ke dalam bis, senang sekali rasanya. Bebas memilih tempat duduk yang paling nyaman. Aku membatin ga mungkin aku seleluasa ini memilih tempat duduk kalau aku menunggu bis di halte dekat kantor PLN. Tepat seperti dugaanku segera bis penuh sesak dengan penumpang. Pak kondektur memintaku lebih tepatnya setengah memaksa untuk pindah tempat duduk di belakang sopir. Ada apa ini? Setelah aku pindah tempat barulah dia memberitahu dengan pelan kalau didekat kursiku tadi ada 3 orang yang profesinya adalah tukang copet di atas bus umum. Wah terima kasih pak, budi baikmu tak kan pernah kulupakan. Rupanya beliau hapal kalau aku sering menumpang di bisnya.
Tak terasa sampai juga di Banjarnegara, hari sudah gelap jam 10 malam. Aku bersiap siap untuk turun di perempatan kalimendong Purwanegara. Karena suasana yang gelap, ternyata tempat tersebut sudah terlewati. Dengan panik aku berteriak pada sopir kalau aku mau turun. Bis berhenti. Ya Tuhan ampuni aku .. dimana aku ini. Kemudian aku mengenali kalau aku ada di daerah desa Bantar. Berarti aku harus jalan kaki ke arah timur paling tidak sekitar 7 km.Saking kesal dengan diriku sendiri aku hampir menangis. Waktu itu masih sangat jarang orang yang mempunyai hp, hp masih dianggap barang yang sangat mewah. aku juga tidak memilikinya maka aku tidak bisa menghubungi suamiku untuk menjemput. Dengan perasaan campur aduk aku berjalan kaki menuju ke arah timur, hingga sampailah di terminal Mandiraja. Perasaan agak tenang karena disana tempatnya agak terang. Tapi perasaan agak tenang itu tak berlangsung lama karena dari kejauhan aku melihat 3 orang laki laki yang berjalan agak sempoyongan. Aduh pasti mereka orang orang yang sedang mabuk minuman keras. Dengan khawatir aku tetap meneruskan langkah sambil tak henti hentinya aku berdoa agar Tuhan selalu melindungiku dan menjauhkanku dari segala marabahaya. Semakin dekat aku dengan ketiga orang mabuk itu, tiba tiba salah satu dari mereka mengarahkan lampu senternya kearah mukaku dan berkata "Lho bu guru apa ya? kok malam malam di sini bu?" Puji Tuhan ternyata salah satu dari mereka adalah mantan muridku. Lantas aku bercerita padanya kalau aku baru pulang dari Semarang tapi bisnya kebablasan. Dengan suara keras kemudian dia memanggil tukang ojek yang mangkal di terminal dan memintanya untuk mengantarku ke kalimendong. Sampai di Kalimendong aku melihat suamiku sudah ada di sana untuk menjemputku. Belum pernah aku merasa selega ini sebelumnya. Luar biasa aku ditolong Tuhan dengan perantaraan pemuda yang sedang mabuk.
oalah mbak.e, mbak.e
BalasHapushahaha :D
wkwkwk
Hapus